Translasi Mata Uang Asing dan Inflasi

Kamis, 19 Mei 2011
Penggunaan kurs kini untuk mentranslasikan biaya perolehan aktiva nonmoneter yang belokasi di lingkungan berinflasi pada akhirnya akan menimbulkan nilai ekuivalen dalam mata ung domestic yang jauh lebih rendah daripada saat pengukuran awalnya.
FASB menolak penyesuaian inflasi sebelum proses translasi, karena yakin bahwa penyesuaian tersebut tidak konsisten dengan kerangka dasar penilaian biaya historis yang digunakan dalam laporan keuangan dasar di AS. Sebagai solusi, FAS No. 52 mewajibkan penggunaan dolar AS sebagai mata uang funsional untuk operasi luar negeri yang berdomisili di lingkungan dengan hiperinflasi.
Metode ini, memiliki keterbatasan. Pertama, translasi berdasarkan kurs historis akan bermakna hanya jika perbedaan tingkat inflasi antar negara tuan rumah anak perusahaan dan negara induk perusahaan berhubungan negative sempurna dengan kurs nilai tukar. Jika tidak, nilai ekuivalen dolar aktiva dalam mata uang asing, dalam lingkungan berinflasi akan menyesatkan. Jika tingkat inflasi di perekonomian negara hiperinflasi turun dibawah 100 persen selama periode 3 tahun di masa mendatang, perubahan didalam metode kurs kini akan menimbulkan penyesuian translasi yang signifikan terhadap ekuitas konsolidasi, karena kurs nilai tukar dapat berubah secara signifikan selama masa sementara tersebut.
Berdasarkan keadaan ini, pembebanan kerugian translasi atas aktiva tetap dalam mata uang asing terhadap ekuitas pemegang saham akan menimbulkan pengaruh yang signifikan terhadap rasio keuangan yang memiliki penyebut berupa ekuitas pemegang saham. Masalah translasi mata uang asing tidak dapat dipisahkan dari masalah akuntansi untuk inflasi asing.


Sumber : Buku Akuntansi Internasional Federick D. S. Choi, Gary K. Meek

0 komentar:

Posting Komentar